Aryarachimanisa’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Laporan tentang Bai Istishna’

on June 29, 2009

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Fenomena jual beli dalam kehidupan sehari-hari merupakan fenomena yang menjadi kebiasaan masyarakat. Masyarakat Indonesia khusunya banyak sekali yang berprofesi sebagai pedagang. Jual beli diatur juga dalam syariah islam. Fenomena jual beli di masyarakat sudah mulai keluar dari syariat islam. Jual beli terdiri dari 2 macam, yaitu jual beli tunai dan jual beli secara tangguh. Jual beli secara tangguh pun terbagi lagi menjadi jual beli murabahah, salam dan istishna’. Jual beli salam dan istishna’ sebenarnya jual beli yang serupa, hanya saja perbedaannya terletak pada komiditi dan cara pembayaran yang sedikit berbeda. Jual beli salam terjadi pada komoditas pertanian, perkebunan dan perternakan, sedangkan jual beli istishna’ terjadi pada komoditas hasil industri yang spesifikasinya dapat ditentukan oleh konsumen. Jual beli istishna’ merupakan teknik jual beli yang sering terjadi dalam kehiduoan sehari-hari seperti menjahit di tukang jahit dan lain sebagainya. Mungkin itu adalah jual beli istishna’ yang sederhana tapi hal teresebut adalah contoh kecil dari jual beli istishna’.
Produk istishna’ merupakan produk bank syariah, sehingga jual beli ini dapat dilakukan di bank syariah. Semua bank syariah memberlakukan produk ini sebagai jasa untuk nasabah, selain memberikan keuntungan kepada produsen juga memberikan keuntungan kepada konsumen atau pemesan yang memesan barang. Sehingga bank menjadi pihak intermediasi dalam hal ini. Jika bank melakukan jual beli istishna’ berarti terjadi bai al-istishna pararel. Dalam hal ini maka penulis menunjukan perkembangan bai al-istishna’ selama 5 tahun terakhir pada bank-bank syariah.

1.2 Tujuan
Tujuan dari pembuatan laporan ini adalah untuk mengetahui tentang seberapa besar kenaikan dalam persentase dari bai al-istishna’ di bank syariah, seberapa besar permintaan setiap tahun dan seberapa besar anggaran yang dialokasikan untuk al-istishna’.

1.3 Landasan Teori
Bai al-Istishna’ adalah jual beli antara al-mushtani’ (produsen) sebagai penjual dan as-shani’ (pemesan) sebagai pembeli. Jual beli ini dilakukan dengan perjanjian untuk memesan barang-barang industri (manufactur). Untuk sistem pembayarannya, kedua belah pihak telah bersepakat bisa dibayar dimuka, dicicil atau ditangguhkan sampai waktu yang telah ditentukan. Kunci terjadinya bai al-istishna’ adalah adanya dzimmah (perjanjian).
Dasar hukum bai al-istishna’ adalah siyas para ulama. Sebenarnya, bai al-istishna’ pernah ditentang oleh ulama besar seperti zafar, Malik, Syafi’i dan Ahmad, para ulama melarang karena jual beli ini sama saja dengan jual beli ghaib. Tetapi, semakin berkembang dan terus berkembang maka qiyas sebagai hukum dari al-istishna’, dengan kata lain jual beli ini diizinkan dengan menepati perjanjian dan tidak menimbulkan maslahat, dan prosesnya pun mengikuti syarat dan rukun yang ditetapkan. Seperti adanya sighat, sighat adalah hal yang paling penting dalam bai al-istishna’.
Bai al-istishna’ terbagi 2 jenis transaksi, yaitu transaksi dibayar tunai dan transaksi dengan pembayaran tangguh.
Skema bai al-istishna’ adalah sebagai berikut,
a. Skema bai al-istishna’ dengan pembayaran tunai,

b. Skema bai al-istishna’ dengan pembayaran tangguh

Selain 2 bagan di atas ada juga istishna’ secara pararel yang dilakukan oleh produsen, pemesan dan bank syariah. Dalam hal ini bank juga harus melakukan akad istishna’ agar keuntungan yang diambil oleh bank menjadi halal. Perbedaan mendasar dari istishna’ dan salam adalah terletak pada spesifikasi. Dalam salam, pemesan tidak bisa menentukan, warna, rasa, bentuk dari komoditi karena untuk urusan pertanian, perkebunan dan perternakan, sedangkan pada bai al-istishna’ dapat ditentukan dari spesifikasi komoditinya untuk warna, bentuk, ukuran semua dapat ditentukan oleh pemesan. Maka, dari itu bai al-istishna’ merupakan produk bank syariah yang terdapat di semua bank syariah yang ada di seluruh dunia.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Hasil Penelitian
Bai al-istishna’ terjadi di seluruh bank syariah di seluruh dunia. Pertama-tama bai al-istishna’ diharuskan dilakukan perjanjian (dzimmah) antara pihak yang bersangkutan. Perjanjian ini dapat dilakukan dengan lisan, tetapi agar lebih terpercaya dan dapat dibuktikan maka dilakukan sebuah surat perjanjian kontrak tertulis bai al-istishna’. Dalam lampiran, dilampirkan contoh surat perjanjian bai al-istishna’ di State Bank of Pakistan.
Bank mengalokasikan dana sebesar 20% dari modal bank untuk biaya murabahah, istishna’, dan salam. Dan peningkatan yang terjadi di bank syariah sangat signifikan. Secara umum 5 tahun terakhir di Indonesia khususnya terjadi kenaikan yang signifikan yaitu dari 4 triliun rupiah menjadi 30 triliun rupiah. Betapa besar kenaikan aset dari bank syariah ini. Dari aset sebanyak itu, 20% nya dialokasikan untuk murabahah, salam dan istishna’ kira-kira sebesar 800 juta rupiah dan meningkat menjadi 6 miliar rupiah.

Gambar 2.1 Grafik pertumbuhan aset bank syariah dan alokasi dana untuk murabahah, istishna’ dan salam
Selain alokasi dana, pertumbuhan permintaan akan produk istishna’ pun semakin meningkat di seluruh dunia. Di Inggris pada tahun 1995-2000 permintaan akan istishna’ naik dari 0% sampai 49%, kenaikan yang signifikan. Sedangkan pada umumnya di negara-negara luar seperti di Bahrain, tahun 2007 pertumbuhan dari bai al-istishna’ ini meningkat 10% per tahun. Sedangkan di negara-negara lain seperti Malaysia, Inggris, dan Indonesia, pada tahun 2004 perkembangan bai al-Istishna’ ini meningkat 2% per tahun. Dari angka-angka itu menyebutkan bahwa bai al-istishna’ merupakan transaksi yang memiliki tingkat pertumbuhan yang cukup baik, karena pertumbuhan yang paling pesat adalah peminat dari ijarah dan mudharabah.

Gambar 2.2 Grafik pertumbuhan dari produk bank syariah di Malaysia pada tahun 2004.

Gambar 2.3 Grafik pertumbuhan dari produk bank syariah di Bahrain

Gambar 2.4 Grafik pertumbuhan dari produk bank syariah secara umum

Dari data-data yang telah disajikan di atas, produk istishna’ adalah produk bank syariah yang diminati oleh nasabah bamk syariah karena selain menimbulkan keuntungan bagi produsen (al-mushtani’), menguntungkan bagi bank syariah dan menguntungkan bagi pemesan juga. Keuntungannya diambil oleh produsen dan juga bank sesuai kesepakatan yang telah disepakati bersama. Prosesnya bukan proses bagi hasil tetapi proses transaksi istishna’ antara produsen dan pemesan juga produsen dan bank syariah, maka keuntungan yang terdapat di bank syariah statusnya menjadi halal.

Bai al-istishna’ biasa digunakan dalam industri lokomotif, kendaraan, kontruksi bangunan dan produk manufaktur. Khususnya di London, bai al-istishna’ kebanyakan dilakukan untuk proyek pembangunan real estate dan parking area. Tahun 2006 London membangun 183 real estate dan 72 parking area, dan bank syariah ABC di London membantu permodalan perusahaan property sebesar 33 miliar poundsterling untuk pembangunan ini. Menurut Richard Thomas, kepala dari manajemen syariah di London praktik Bai al-istishna’ di London meningkatkan pembiayaan manufaktur di London, secara spesifikasi, bai al-istishna’ membantu pembiayaan perusahaan manufaktur dalam pembelian bahan-bahan mentah dan bahan-bahan penunjang lainnya, sehingga mereka mudah memperoleh dana.

BAB III
PENUTUP
Bai al-istishna’ merupakan produk bank syariah yang diminati oleh nasabah dan menimbulkan keuntungan bagi pihak bank syariah. Transaksi istishna’ pararel diberlakukan dalam hal istishna’ di bank syariah.
Dalam perkembangannya, bai al-istishna’ di luar Indonesia khushnya di Inggris, dimanfaatkan dalam hal pembangunan real estate dan lahan parkir, yaitu akad antara bank syariah dan perusahaan property. Sedangkan di Bahrain, nasabah bank syariah memilih produk bai istishna’ dalam industri minyak dan gas karena industri di negara-negara Timur Tengah kebanyakan adalah industri migas.
Dengan perkembangan pesat bank syariah di seluruh negara, maka pertumbuhan bai al-istishna’ di negara-negara pun berkembang pesat, alokasi biaya meningkat seiring dengan pertumbuhan aset bank syariah.

DAFTAR PUSTAKA
Alvi,Ijlal.2007. Need for a global unified Sukuk market. http://www.iifm.net .Pdf. [21 Juni 2009].
Amjad Saeed, Kawaja.2008. International Overview of Islamic Finance. http://www.alhuda.net . Microsoft Power Point. [19 Juni 2009].
Al amine, Muhamad and Muhamad al Bashir. 2001. “Istishna’ and Its Application”. http://www.financeinislam.com . [21 Juni 2009].
Bank Albilad : http://www.bankalbilad.com [19 Juni 2009]
Company Report. Surat Berharga Syariah Negara.14 Agustus 2008.
Istishna’ agreement State Bank of Pakistan. http://www.sbp.org. [19 Juni 2009]
Muflih, Muhammad.2009. Modul Fiqh Muamalah I.
Parker, Mushtak. 2006. “Istishna Contruction Financing Gains Momentum”. Arab News. http://www.arabnews.com/?artid=76680″>Istisna. [19 Juni 2009]
Parker, Mushtak. 2006.”Role of Islamic Finance in Saudi Arabia”.Arab News. http://www.arabnews.com/jscript/effects.js. [21 Juni 2009]
Riyad Bank website : http://www.riyadbank.com [19 Juni 2009]
Verminnem Newsletter.2006. http://www.verminnem.com .Pdf. [21 Juni 2009].

About these ads

8 responses to “Laporan tentang Bai Istishna’

  1. kris says:

    mas, istishna kalau pada bank konvensional apa ya?
    istishna kan di abnk syariah, kalau di bank konvensional yang serupa dengan istishna apa?

    • aryarachimanisa says:

      kalau setau saya, bank konvensional tidak memiliki semua produk serupa bank syariah,,, istishna ini kan hubungannya jual beli,, nah setau saya, bank konvensional tidak memberlakukan hal ini,,, selain bank konvensional tidak mau menerima resiko rugi dari jual beli,, istishna sendiri harus pake akad pararel yang memank agag sulit diterapkan di bank konvensional,,, demikian penjelasan dari saya. Terima kasih

  2. amirul says:

    Contoh bai istishna yang concrete seperti apa?

    • yyou_yayu says:

      contoh bai al istishna yang real adalah pemesanan kursi, pemesanan kaos partai besar, pemesanan meja, lemari pada tukang kayu dan banyak lagi, pokoknya proses jual beli dengan pemesanan adalah contoh bai al-istishna. Misalnya kita memesan 100 kursi kepada tukang kayu, ukuran dan warnanya ditentukan oleh pemesan, kemudian tukang kayu itu meminjam uang kepada bank syariah untuk modalnya, dibuatkanlah kursi kemudian diantar dan akhirnya dibayar oleh pemesan kepada tukang kayu. memank agak rumit skema akad bai al-istishna di bank syariah tapi itulah yang harus dilakukan agar terhindar dari riba.

  3. ismi says:

    mba, boleh tanya tentang jual beli mata uang atau al sharf ngga????
    itu menurut mba seperti apa? dan bagaimana aplikasinya di perbankan????

  4. ismi says:

    tolong di bls ya,,,,,

    • yyou_yayu says:

      sharf itu adalah tukar menukar mata uang asing,
      seperti dollar ditukar dengan rupiah,,
      pernah dengar tentang yadan bi yadin atau sawaan bi sawain? nah itulah prinsip sharf. Sharf sendiri di dunia nyata ini memang tidak lepas dari riba dan spekulasi,, karena nilai mata uang rupiah terhadap dollar saja naik dan turun,, sharf murni itu contohnya Rp 1 ditukar dengan $ 1, itulah sharf yang murni,,,
      dapat diatasi masalah ini jika pemerintah Indonesia mengadakan kesepakatan pertukaran dengan pemerintah USA. Spekulasi di kalangan atas lah yang membuat sharf ini tidak bisa berjalan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: